Rabu, 13 Juli 2011

story about my heart

“Ohayo, Donita!”  Sapaan Ulil, sahabat Donita membuyarkan lamunannya.
“Ngapain sih lo pagi buta begini ngelamun di depan kelas?” Hana, gadis berkacamata yang imut itu merangkul bahu Donita.
“Dih, apa banget deh kalian.. gue cuma lagi mikir aja. Udah yuk, mendingan sekarang kita ke kantin aja gue lapeeeeer” Donita langsung menarik lengan kedua sahabatnya itu menuju kantin. Sesampainya mereka di kantin, mereka langsung memesan makanan kesukaan mereka dan meencari tempat duduk yang kosong. Tiba-tiba ada yang memanggil Donita.
“Donita!” seorang cowok melambaikan tangannya dan menuju tempat dimana Donita dan teman-temannya duduk, “kata ayah aku, nanti kita pulang bareng.”
“Delvin? Eh, iya. Emang kita mau kemana dulu?”
“Ngga tau juga deh, tapi nanti kita di jemput sama Pak Harun.”
“EKHEEM.. ada yang di kacangin nih kita,” Hana meledek Donita dan Delvin, “siapa nih, Ta? Gitu ya lo ngga cerita sama kita-ktita..”
“Hehehe.. kenalin ini Delvin an—“ belum sempat Donita menyelesaikan kallimatnya Ulil memotong, “Delvin anak kelas 9-3 kan?”
“Nah tuh, lo tau Lil. Dia ini anak temen bokap gue..” donita memperkenalkan sambil menepuk-nepuk bahu Delvin.
“Kok lo tau gue sih, hahaha.. gue kan anaknya ga eksis” Delvin merendah
“Tetangga gue sekelas sama elo Vin.” Ulil menjawab cuek.
“Oh, ya udah kalo gitu. Don, nanti aku jemput kamu di kelas ya, bye guys..” Delvin-pun berlalu dari tempat duduk mereka sambil melambaikan tangannya ke Donita. Tatapan Ulil dan Hana seperti tatapan menyelidik ke arah Donita. Meminta sebuah kisah yang belum sempat Donita ceritakan.
“Besok pulang sekolah di rumah gue ya, guys” Donita langsung menjawab tanpa ditanya. “Oke! Ya udah, kita makan yuk. Laper nih gue.” Hana melepaskan kacamatanya.

Pulang sekolah..
Delvin sudah menunggu di depan kelas Donita saat Donita keluar dari kelas. Sesaat mereka mengobrol di depan kelas Donita sambil menuggu Pa Harun, supir dari Delvin menjemput mereka. Setelah Pa Harun datang mereka langsung menuju mobil. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, mobil Delvin berhenti di depan sebuat butik mewah di daerah Dago atas. Pa Harun meminta Delvin dan Donita untuk menunggu. Donita bertanya pada Delvin untuk apa mereka kesini. Delvin tidak menjawab, tatapan matanya berubah keruh. Sesaat kemudian Pa Harun datang dan meminta mereka masuk ke dalam butik tersebut dan meminta Donita untuk memilih baju yang dia inginkan.
“Vin? Buat apa kita kesini? Terus kenapa aku disuruh milih baju tapi kamu ngga?”
“Aku udah ada bajunya, kamu pilih aja atau mau aku bantu pilihin?”
“Hem, aku udah nemu satu sih bajunya, yang ini nih..” Donita menunjuk salah satu gaun berwarna merah maroon dengan pita terikat di pinggangnya dan sedikit warna perak dibagian bawah gaun. “Bagus ngga, Vin?”
“Hem.. maroon, cocok sama kamu. Bagus aku suka.”
“Tapi aku ga bawa dompet Vin.. hehehehe”
“Ya ampun, masalah itu bisa diurus. Kamu emang disuruh milih karena ini permintaan ayah aku, Ta.” Delvin tertawa kecil.
“Hah? Yang bener, vin? Waaah.. makasih ya, Delvin.” Donita tersenyum manis yang malah membuat tatapan mata Delvin semakin keruh. Donita membawa gaun itu sambil menarik tangan Delvin agar tetap berada disampingnya. Entah mengapa, perasaan Donita juga buruk saat ini.

to be continue..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar